Pada hasil riset LAPI ITB, diketahui permintaan akan penumpang KCJB mencapai 61 ribu penumpang per hari.
Penurunan permintaan ini terjadi karena riset Polar UI didasari pada kondisi pandemi Covid-19 dan dampak turunan lainnya yang berimbas pada turunnya mobilitas warga.
Baca Juga:
Kereta Cepat Whoosh Jadi Transportasi Penghubung Piala Dunia U-17 Jakarta-Bandung
"Tim dari Polar UI sudah melakukan riset Demand Forecast KCJB. Hasilnya ada di angka 30 ribu penumpang per hari. Angkanya memang menurun dibanding riset dari tim LAPI ITB. Ini disebabkan karena riset Polar UI sangat mempertimbangkan kondisi pandemi dan dampak turunannya," ujar Dwiyana.
Dwiyana mengaku, imbas dari pandemi Covid-19 terhadap Demand Forecast dapat dirasakan hingga 5 tahun ke depan. Hal itu juga tergantung dengan kondisi pandemi di Tanah Air.
"Berdasarkan situasi pendemi saat ini, pengaruhnya terhadap prediksi penumpang KCJB bisa saja dirasakan sampai 5 tahun ke depan. Perhitungan Demand Forecast yang terkini menggunakan pendekatan serta asumsi pertumbuhan yang konservatif terutama di 5 tahun pertama masa pengoperasian, dan tentu Kami terus berharap pandemi ini segera usai sehingga mobilitas warga bisa kembali normal," paparnya.
Baca Juga:
Tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung Masih Gratis hingga Pertengahan Oktober
"Potensi pertumbuhan ekonomi kita cukup baik di tahun ini. Hal ini tentunya akan menjadi harapan baru ke depan, walaupun dalam 5 tahun pertama pertumbuhan penumpang diasumsikan kecil (konservatif) , namun di tahun berikutnya diharapkan akan ada masa dimana mobilitas orang akan membaik seiring dengan menggeliatnya perekonomian kita pasca covid ," kata Dwiyana. [Tio]