Di Pendopo Kantor Bupati Malang, 7 Juli 2025, di hadapan Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib dan jajaran pejabat PLN, Ida berdiri mewakili puluhan ibu-ibu Dasawisma dan warga Desa Banjarsari. Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai sosok yang dipercaya untuk berbicara atas nama mereka semua. Dengan sederhana namun tulus, ia menyampaikan: "...mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT PLN Electricity Services atas bantuan sarana dan pra sarana untuk kami."
*Tangan yang Mengubah Nilai Sampah*
Baca Juga:
Dari Sampah Jadi Rupiah, Kisah Ida dan Perjuangan Ibu-Ibu Bank Sampah KATA
Di bawah kepemimpinan Ida, sampah plastik yang dulu hanya dihargai Rp3.000 per kilogram, kini setelah dicacah bisa terjual hingga Rp12.000 per kilogram atau naik empat kali lipat. Bank Sampah KATA yang dulu hanya sanggup menampung sedikit sampah, kini mampu mengelola hingga 9,4 ton sampah plastik.
Namun bagi Ida, angka-angka itu bukan yang paling ia banggakan. Yang paling ia rasakan adalah perubahan pada wajah-wajah tetangganya sendiri: total pendapatan pengelola bank sampah yang melonjak dari Rp20,4 juta pada 2023 menjadi Rp84 juta pada 2025, jumlah nasabah yang bertambah 69%, dan senyum ibu-ibu yang kini punya penghasilan tambahan dari sesuatu yang dulu mereka anggap tak berharga.
Ketika evaluasi Social Return on Investment (SROI) dilakukan pada Desember 2025, Ida-lah salah satu responden utama yang diwawancarai mendalam. Dari situ, tim evaluator menyimpulkan bahwa setiap Rp1 yang diinvestasikan PLN ES melalui program ini, menghasilkan Rp 2 nilai manfaat sosial bagi masyarakat.
Baca Juga:
Ida Dwi Fitriyah, Ibu Rumah Tangga yang Mengubah Sampah Menjadi Sumber Penghasilan
*Mengajak yang Muda, Menjaga yang Akan Datang*
Ida tahu, kerja yang ia mulai tidak boleh berhenti di generasinya saja. Maka ia membuka pintu Bank Sampah KATA untuk sekolah-sekolah di sekitar desa. Lewat program Eco-Visit, ia dan timnya mendatangi MTs Mambaul Huda Banjarsari, duduk bersama 28 siswa, mengajarkan cara memilah sampah sejak dini. Hasilnya tak main-main, nilai pemahaman siswa yang semula berkisar 40 hingga 80, melonjak menjadi 80 hingga 100 hanya dalam satu sesi.
Bagi Ida, mengajak anak-anak ikut serta bukan sekadar soal edukasi. Itu adalah caranya menanam benih agar suatu hari nanti, ketika ia sudah tak lagi memimpin, akan selalu ada orang yang meneruskan apa yang telah ia mulai.