WAHANANEWS.NET,Jakarta – Namanya Ida Dwi Fitriyah. Lahir di Malang, 6 Juli 1985, ia adalah satu dari ratusan ibu rumah tangga di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, yang dulunya menjalani hari-hari biasa: mengurus rumah, mengasuh keluarga, dan menjadi bagian dari kelompok Dasawisma seperti kebanyakan perempuan di kampungnya. Tidak ada yang istimewa, sampai suatu hari, ia memutuskan untuk tidak lagi diam melihat sampah menumpuk begitu saja di lingkungannya.
*Dari Keresahan, Bukan dari Ambisi*
Baca Juga:
Dari Sampah Jadi Rupiah, Kisah Ida dan Perjuangan Ibu-Ibu Bank Sampah KATA
Ida bukan sarjana lingkungan. Ia bukan pula aktivis yang datang dari luar dengan segudang teori. Ia hanya seorang warga yang gelisah melihat sampah rumah tangga organik maupun anorganik dibuang begitu saja ke Sungai Gombong yang mengalir di depan rumah-rumah tetangganya. Padahal, di matanya, tumpukan itu bukan sekadar kotoran. Ia melihat sesuatu yang lain: peluang.
November 2021, bersama ibu-ibu Dasawisma dan pengurus RW, Ida memutuskan mendirikan Bank Sampah Kampung Tape (KATA). Tidak ada modal besar. Tidak ada mesin canggih. Yang ada hanya kemauan, dan satu kalimat yang terus ia gaungkan ke tetangga-tetangganya: "Dari Sampah Jadi Rupiah."
Ia merekrut sepuluh perempuan lain untuk menjadi pengurus. Ia mengetuk pintu satu per satu, meyakinkan delapan puluh keluarga untuk menjadi nasabah. Bukan pekerjaan mudah untuk seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah memegang tanggung jawab organisasi sebesar itu, tapi Ida melakukannya, dan terus melakukannya, tanpa jeda, hingga hari ini.
Baca Juga:
Ida Dwi Fitriyah, Ibu Rumah Tangga yang Mengubah Sampah Menjadi Sumber Penghasilan
*Ketika Tanggung Jawab Bertambah Besar*
Bank sampah yang dirintisnya tumbuh. Tapi pertumbuhan itu juga membawa persoalan baru: gudang penyimpanan mulai penuh sesak, alat pengolahan tak sanggup mengejar volume sampah yang terus bertambah, dan wilayah kerja mereka terbatas karena kendala jarak pengangkutan.
Ida tidak menyerah pada keterbatasan. Ia yang mengusulkan kebutuhan alat baru. Ia yang duduk bersama tim dari Yayasan Filantra untuk melakukan survei kebutuhan lapangan. Ia pula yang akhirnya mendapatkan bantuan dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN Electricity Services (PLN ES) pada 17 Juli dan 7 Agustus 2025. Komunitas yang ia bentuk, menerima mesin pencacah, mesin pengering, instalasi listrik baru, lima unit dropbox sampah plastik, dan satu gerobak listrik pengangkut sampah.