Malah sebaliknya, Apple pernah tenggelam dalam kurun waktu yang cukup lama. Nilai pasarnya bahkan sempat di bawah USD 2 triliun atau sekitar Rp 30 ribu triliun, pada awal tahun ini.
Hal tersebut dikarenakan lambannya pertumbuhan perusahaan dan akibat kegelisahan investor terkait kenaikan suku bunga yang mempengaruhi sektor teknologi.
Baca Juga:
PHK Berlanjut, Microsoft Pangkas Ratusan Karyawan Meski Keuntungan Meningkat
Namun akhirnya, raksasa teknologi ini bisa melalui pasang surutnya dan menutup nilai pasar dengan sangat baik.
Bahkan saat ini, mereka mampu menghasilkan begitu banyak uang, dan mampu memberikan dividen per tahun sebesar USD 105 miliar atau sekitar Rp 1.579 triliun, termasuk pembelian kembali sahamnya sendiri.
Sebagai tambahan informasi, sebagian besar keuntungan Apple berasal dari penjualan ponsel mereka, yakni iPhone.
Baca Juga:
Dalam Acara CEO Forum 2024, Dirut PLN Ajak Selaraskan Langkah Wujudkan Mimpi Indonesia
Selebihnya, produk lain seperti Macintosh, iPad, Apple Watch, AirPods, layanan streaming musik dan video, program garansi, App Store, dan komisi iklan yang dibayarkan Google sebagai mesin pencarian default di iPhone menjadi penyumbang pendapatannya.
Meskipun sejumlah inovasi Apple dicetuskan oleh Steve Jobs, sebagian besar kekayaan perusahaan diciptakan oleh CEO saat ini, yaitu Tim Cook. Ia mengambil alih peran CEO tidak lama sebelum Jobs tutup usia pada Oktober 2011.[zbr]