WahanaNews-NET | Perekonomian Indonesia diyakini bakal tumbuh solid dan sehat serta jauh dari ancaman krisis berkat kebijakan ekonomi yang sinergis dari pemerintah dan regulator dalam merespons tantangan global yang dinamis.
Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady mengatakan, gejolak perbankan di Amerika Serikat dan Eropa memang tidak lepas dari kondisi global saat ini, terutama inflasi yang tinggi dan menekan negara-negara maju, sehingga bank sentral pun mengerek suku bunga untuk memerangi inflasi tersebut.
Baca Juga:
Januari-Februari 2025, Pelanggan PLN Dapat Diskon Tarif Listrik 50 Persen dari Pemerintah
"Kalau saya katakan, saat ini secara riil perekonomian nasional sangat sehat. Kita pun harus mengapresiasi kinerja tim ekonomi baik Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) maupun Bank Indonesia serta lembaga lainnya yang mampu bersinergi," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (3/4/23).
Meski demikian, pengusaha nasional tersebut mengungkapkan alarm kewaspadaan tetap harus dinyalakan. Apalagi saat ini masyarakat dunia memang benar-benar khawatir terhadap imbas inflasi tersebut.
Mengutip hasil survei Ipsos pada akhir Maret lalu, inflasi menjadi kekhawatiran terbesar masyarakat dunia, terutama di 12 negara yang mengalami gejolak harga seperti Prancis, Jerman, Britania Raya, Polandia, Turki, hingga Amerika Serikat.
Baca Juga:
Januari-Februari 2025, Pelanggan PLN Dapat Diskon Tarif Listrik 50 Persen dari Pemerintah
"Nah, saat ini, gejolak harga juga berhasil diredam oleh berbagai kebijakan pemerintah. Ini sangat bagus," kata John.
Di sisi lain, saat The Fed dan Bank Sentral Eropa meningkatkan bunga hingga membuat sejumlah bank berjatuhan, kondisi inflasi di Indonesia justru tetap terjaga.
"Jadi, memang itu yang sedang terjadi dan semua krisis yang kita hadapi sembilan bulan terakhir ini, akar masalahnya inflasi. Sewaktu pasokan uang seolah disedot bank sentral, baru terlihat ada korban dari likuiditas, maka jatuhlah Silicon Valley Bank," katanya.