Sementara itu, pada Oktober 2021, IKK kembali menguat dan mencapai 113,4 atau berada pada area optimis. Kenaikan IKK dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan penghasilan masyarakat setelah adanya relaksasi kebijakan PPKM Darurat ke PPKM level 1-3.
Ketiga, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Oktober 2021 yang mencapai USD30,81 miliar. Surplus tersebut didukung kinerja ekspor Indonesia sebesar USD186,32 miliar atau tumbuh 41,8 persen YoY pada Januari-Oktober 2021.
Baca Juga:
Dibuka Presiden Joko Widodo, TEI ke-39 Momentum Dorong Ekspor dan Tingkatkan Daya Saing Produk
Ekspor nonmigas juga tumbuh signifikan sebesar 41,26 persen YoY pada periode yang sama.
Sementara itu, dari sisi impor, juga tercatat pertumbuhan sebesar 35,86 persen YoY. Nilai tersebut didominasi bahan baku dan barang modal sebesar 89,91 persen yang tentu akan mendorong pemulihan kesehatan dan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Secara bulanan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 kembali memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu mencapai USD22,03 miliar,” ujarnya.
Baca Juga:
Kolaborasi Kemendag, Disdag Sumsel, YLKI Edukasi Hak Konsumen Bagi Usaha
Menurut daia, peluang dan tantangan perdagangan dalam dan luar negeri ke depan akan semakin kompleks.
Beberapa hal yang akan mempengaruhi pemulihan perdagangan pada 2021-2022, yaitu isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG); ekonomi digital; gangguan rantai pasok; perubahan iklim; kenaikan harga pangan; dan tren supercycle commodity.
Kementerian Perdagangan, tambahnya, mengantisipasi dan merespon peluang dan tantangan pemulihan ekonomi dengan analisis dan rekomendasi kebijakan yang disusun BPPP. [Tio]