WahanaNews-NET | Dalam laporan State of the Internet baru berjudul Slipping Through The Security Gaps: The Rise of Application and API Attacks Against Organizations, Akamai menyebutkan sektor keuangan di Asia Pasifik dan Jepang (APJ) masih jadi target utama serangan siber di aplikasi web dan API.
Peningkatan serangan siber di sektor ini menurut Akamai meningkat sebesar 248% dibanding tahun sebelumnya. Bahkan kenaikan ini lebih tinggi dibanding kenaikan serangan pada tingkat global sebesar 169 persen.
Baca Juga:
Terkena Serangan Ransomware, Data PDNS Tak Bisa Dipulihkan
Angka tersebut menunjukkan bahwa organisasi layanan keuangan di wilayah ini rentan menjadi target dan berisiko tinggi karena pelaku ancaman akan meningkatkan jumlah, frekuensi, dan kecanggihan serangannya.
"Lonjakan serangan sebesar hampir 250 persen tersebut berkaitan dengan investasi organisasi layanan keuangan di APJ yang signifikan untuk menggencarkan transformasi digital sekaligus ekspansi beragam produk dan layanan digital yang berfokus pada pelanggan," kata Reuben Koh, Security Technology and Strategy Director (APJ), Akamai, dikutip detikINET.
"Ini merupakan masalah krusial bagi organisasi layanan keuangan, seiring semakin banyaknya digitalisasi, semakin banyak pula celah serangan secara keseluruhan, sehingga pelaku ancaman pun akan semakin berpeluang besar untuk melakukan serangan siber," tambahnya.
Baca Juga:
Pusat Data Nasional Diserang Siber, BSSN Sebut Pelaku Minta Rp131 Miliar
Dibandingkan seluruh wilayah, jumlah serangan aplikasi web dan API di APJ secara keseluruhan dalam 24 bulan belakangan meningkat stabil, dengan rata-rata sekitar 10 juta serangan per hari.
Akamai juga mengamati hari-hari ketika serangan mencapai lebih dari 60 juta, yang menunjukkan bahwa organisasi regional selalu rentan untuk menjadi target risiko serangan intensitas tinggi.
Serangan Local File Inclusion (LFI) adalah vektor serangan yang paling umum di APJ. Jumlahnya meningkat sekitar 154 persen dari tahun sebelumnya, melampaui serangan XSS dan SQLi.