WAHANANEWS.NET,Jakarta– Upaya memperkuat keandalan pelayanan kelistrikan dalam menghadapi kondisi darurat terus dilakukan PLN Group melalui penguatan sistem respons dan pemulihan jaringan. Sejalan dengan hadirnya Disaster Recovery Center (DRC) di Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) Aceh, PLN Electricity Services (PLN ES) menghadirkan _Mobile Operation Command Center_ (MOCC) sebagai perpanjangan tangan fungsi koordinasi operasional untuk mempercepat koordinasi dan pemulihan kelistrikan langsung di lokasi terdampak bencana.
MOCC dirancang sebagai pusat monitoring operasional yang dapat bergerak mendekati lokasi kejadian. Kehadirannya memungkinkan kondisi lapangan, progres pekerjaan, kebutuhan material dan peralatan, hingga aspek keselamatan petugas dipantau secara lebih cepat dan terintegrasi.
Baca Juga:
Ida Dwi Fitriyah, Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Penggerak Bank Sampah di Malang
“MOCC merupakan bagian dari upaya kami untuk mendekatkan fungsi monitoring dan koordinasi ke lokasi pekerjaan. Ketika terjadi kondisi darurat, kecepatan memperoleh informasi yang akurat menjadi sangat penting agar keputusan dan dukungan operasional dapat diberikan secara tepat,” ujar Susiana Mutia, Direktur Utama PLN ES.
Dalam operasionalnya, MOCC dilengkapi dengan teknologi _bodycam_ dan sistem _real-time tracking_ untuk memantau aktivitas personel PLN ES serta perkembangan pemulihan jaringan kelistrikan di lokasi terdampak bencana. Teknologi tersebut memungkinkan informasi mengenai kondisi pekerjaan dapat diterima secara lebih cepat, sekaligus mendukung pemantauan penerapan aspek keselamatan kerja.
Perangkat _bodycam_ yang digunakan juga dilengkapi teknologi _face recognition_ untuk mengidentifikasi personel yang menggunakan perangkat. Sistem tersebut membantu memastikan rekaman aktivitas terasosiasi dengan personel yang tepat sehingga data operasional dapat terdokumentasi secara akurat.
Baca Juga:
Dari Sampah Jadi Rupiah, Kisah Ida dan Perjuangan Ibu-Ibu Bank Sampah KATA
“Pemanfaatan teknologi bukan hanya untuk melihat progres pekerjaan, tetapi juga memastikan aspek _safety_ tetap menjadi bagian utama dalam setiap proses pemulihan. Dengan informasi lapangan yang terdokumentasi secara _real-time_, koordinasi antara personel di lapangan dan pusat koordinasi operasional dapat dilakukan dengan lebih efektif,” lanjut Susiana.
Untuk menjaga kesinambungan komunikasi ketika infrastruktur telekomunikasi terdampak bencana, MOCC turut dilengkapi dengan radio komunikasi dan dukungan konektivitas berbasis satelit. Dukungan konektivitas tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga jalur komunikasi antara tim lapangan dengan pusat kendali, khususnya pada situasi ketika jaringan komunikasi konvensional mengalami gangguan. Selain mendukung respons ketika bencana terjadi, MOCC juga memiliki fungsi _early warning system_ melalui pemanfaatan berbagai sumber informasi.
Konsep MOCC dibangun dengan empat fungsi utama, yaitu _Mobile, Operations, Safety,_ dan _Command Center_. Fungsi _Mobile_ memungkinkan unit ditempatkan di lokasi strategis sesuai kebutuhan penanganan. _Operations_ mendukung pemantauan kondisi dan progres pemulihan sistem kelistrikan secara _real-time_. _Safety_ memperkuat pemantauan aktivitas petugas di lapangan, sementara _Command Center_ mendukung komunikasi, koordinasi, serta pengambilan keputusan secara cepat.
Selain penguatan sistem monitoring dan koordinasi, PLN ES juga memberikan dukungan melalui _Battery Energy Storage System_ (BESS) sebagai bagian dari kesiapan pasokan energi dalam kondisi darurat. Kehadiran BESS mendukung penyediaan pasokan listrik pada kebutuhan operasional tertentu, terutama ketika kondisi jaringan utama terdampak dan proses pemulihan masih berlangsung.
Penguatan teknologi dan dukungan operasional tersebut mendapat apresiasi langsung dari Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri. Menurutnya, penerapan teknologi yang terintegrasi menjadi bagian penting dalam memperkuat respons PLN ketika menghadapi kondisi kedaruratan.
“Apresiasi kami kepada PLN ES atas penerapan teknologi melalui Mobile Operation Command Center dan dukungan Battery Energy Storage System. Kehadiran teknologi ini memperkuat kemampuan monitoring, koordinasi, komunikasi, serta dukungan kelistrikan di lapangan, sehingga proses pemulihan di lokasi terdampak bencana dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan terukur. Pemanfaatan teknologi seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat respons PLN dalam menghadapi kondisi darurat, sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan secara efektif dan tetap memperhatikan aspek keselamatan,” kata Arsyadany.
Sementara itu, General Manager PLN UID Aceh, Eddi Saputra, menilai dukungan teknologi dan kesiapan operasional di lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan penanganan kondisi darurat berjalan secara optimal. Menurutnya, setiap penanganan krisis kelistrikan perlu didukung dengan komunikasi, pelaporan, serta evaluasi untuk memastikan proses pemulihan dapat terus ditingkatkan.
“Dalam menghadapi kondisi krisis kelistrikan, kecepatan eksekusi di lapangan menjadi hal yang penting. Dukungan teknologi dan kesiapan personel perlu diiringi dengan komunikasi, pelaporan, serta evaluasi pascakejadian agar setiap proses pemulihan dapat berjalan maksimal dan menjadi bagian dari perbaikan berkelanjutan,” ujar Eddi.
Kehadiran MOCC melengkapi fungsi DRC yang menjadi pusat koordinasi penanganan kondisi darurat. Jika DRC berperan sebagai pusat kendali, MOCC membawa fungsi monitoring dan koordinasi tersebut lebih dekat ke garis depan pekerjaan.
“Bagi PLN ES, pemulihan kelistrikan tidak hanya berbicara mengenai seberapa cepat jaringan kembali beroperasi, tetapi juga bagaimana proses tersebut dilakukan secara aman, terkoordinasi dan berbasis data. MOCC dan BESS menjadi salah satu bentuk penguatan kapabilitas operasional kami untuk mendukung pelayanan kelistrikan yang semakin responsif,” tutur Susiana.
Penguatan sistem respons bencana ini juga sejalan dengan upaya PLN Group untuk memastikan pelayanan kelistrikan tetap dapat dipulihkan secara cepat dalam menghadapi berbagai kondisi kedaruratan. Integrasi antara data risiko, kesiapan armada, teknologi, komunikasi, pelaporan, dan evaluasi pascakejadian menjadi bagian penting dalam mendukung respons dan pemulihan jaringan kelistrikan.
Melalui integrasi antara pusat koordinasi operasional, teknologi digital, konektivitas, dukungan energi, dan kesiapan personel di lapangan, PLN Electricity Services terus memperkuat kapabilitas operasi dan pemeliharaan ketenagalistrikan untuk mendukung layanan yang andal, aman, dan responsif bagi masyarakat.
Narahubung:
Aep Saepudin
Sekretaris Perusahaan
PLN ES
[email protected]
Sekilas Tentang PLN ES:
_PLN Electricity Services merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Operation & Maintenance pada jaringan Transmisi dan Distribusi Kelistrikan. Didirikan sejak 18 Oktober 2011, PLN ES (ES) beroperasi di wilayah Sumatera, Jawa dan Bali. Dengan visi Menjadi Perusahaan #1 Pilihan Pelanggan untuk Pelayanan Ketenagalistrikan Berkualitas di Indonesia, PLN ES terus berinovasi dengan tetap berpegang teguh pada kaidah tata pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). PLN ES juga mendedikasikan dirinya untuk mendukung capaian Net Zero Emission melalui penyediaan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia._
[Amel Silaban]